Aktif Budaya, Masyrakat dan Ilmu Pengetahuan
Budaya

Aktif Budaya, Masyrakat dan Ilmu Pengetahuan

Muhammad Auziqni
Muhammad Auziqni
21 Juli 2026·2 menit baca

BANDAR LAMPUNG — Di tengah pesatnya arus modernisasi dan derasnya penetrasi budaya luar, sebuah gerakan akar rumput yang digawangi para pemuda terus menyalakan obor kebudayaan di kaki Gunung Rajabasa. Muli Mekhanai Rajabasa—sebutan untuk muda-mudi adat di wilayah Rajabasa—kini bukan sekadar simbol estetika dalam perhelatan seremoni adat, melainkan motor penggerak kegiatan sosial dan pelestari budaya yang aktif di tengah masyarakat.

Secara tradisi, Muli (gadis) dan Mekhanai (bujang) memiliki peran vital dalam strata sosial masyarakat Lampung. Namun, Muli Mekhanai Rajabasa berhasil membawa fungsi tradisional tersebut ke tingkat yang lebih relevan dengan tantangan zaman. Mereka memadukan penghormatan terhadap leluhur dengan aksi nyata yang berdampak langsung pada kehidupan sehari-hari.

Pelestari Budaya di Era Digital

Salah satu fokus utama gerakan ini adalah melestarikan kesenian dan adat istiadat khas Rajabasa agar tidak asing di tanah sendiri. Secara rutin, mereka menggelar latihan tari tradisional seperti Tari Melinting dan Tari Sembah, membelajarkan seni bela diri Pencak Khotak, hingga menghidupkan kembali sastra lisan Wawancan dan Pisaan.

Tidak berhenti pada pertunjukan fisik, Muli Mekhanai Rajabasa juga memanfaatkan media digital sebagai sarana dokumentasi dan edukasi. Dokumentasi upacara adat, penjelasan makna pakaian adat, hingga pembuatan konten edukatif mengenai nilai-nilai Piil Pesenggiri (falsafah hidup masyarakat Lampung) rutin diunggah untuk menjangkau generasi muda yang lebih luas.

Bakti Sosial dan Pengabdian Masyarakat

Keaktifan mereka tidak berhenti pada ranah seni semata. Muli Mekhanai Rajabasa hadir sebagai ruang pengabdian sosial. Ketika agenda gotong royong desa digelar, mereka menjadi garda terdepan dalam menggalakkan aksi pembersihan lingkungan, pengelolaan sampah berbasis komunitas, hingga penanaman pohon di area pesisir dan lereng gunung.

Saat bencana alam atau situasi darurat melanda wilayah pesisir, kelompok muda-mudi ini bergerak cepat menggalang bantuan, mendirikan dapur umum, serta memberikan pendampingan trauma healing bagi anak-anak. Kepedulian ini membuktikan bahwa nilai kebersamaan (Sakai Sambayan) masih menghujat kuat dalam nadi pemuda Rajabasa.

Menghidupkan Ekonomi Kreatif dan Pariwisata

Menyadari potensi besar wilayah Rajabasa yang kaya akan keindahan alam dan warisan sejarah, Muli Mekhanai Rajabasa turut mengambil peran sebagai duta pariwisata lokal. Mereka aktif mengelola event budaya tahunan, mengarahkan wisatawan, hingga mempromosikan produk UMKM lokal seperti kain Tapis, olahan makanan tradisional, dan kriya khas daerah.

Melalui sinergi antara pemuda, tokoh adat (Sebatin/Sutan), dan pemerintah setempat, keberadaan Muli Mekhanai Rajabasa berhasil membuktikan bahwa tradisi bukanlah benda museum yang kaku. Tradisi adalah ruang hidup yang jika dikelola dengan kreativitas dan kepedulian, mampu menjadi fondasi karakter sekaligus pendorong kemajuan masyarakat.